by

FERDINANDUS SETU : ANCAMAN SEGREGASI SOSIAL AKIBAT MEDIA SOSIAL

Jakarta – “Data terakhir terkait hoaks per agustus 2018 sampai februari 2019 menunjukan ada 771 kasus hoaks yang teridentifikasi, 181  diantaranya hoaks terkait politik. Artinya, fenomena bahwa ujaran kebencian, kata kata fitnah, kemarahan kemarahan yang ditujukan kepada capres cawapres  kontestan politik lainnya, partai politik, itu  nyata adanya di media sosial kita. Ini yang mungkin yang bisa memicu segregasi (perpisahan) yang terjadi menjelang pilpres”  ujar Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu dalam Dialog Indonesia TVRI Nasional Rabu (6/3/2019).

Menghadapi era digital khususnya ditengah masa kampanye tahun politik, perpisahan atau segregasi sosial rawan terjadi didunia maya dan menjadi ancaman akibat banjirnya informasi hoaks yang beredar. Fenomena kemunculan segregasi di dunia maya bisa terjadi secara alami maupun disengaja dan mempengaruhi tatanan dunia nyata itu sendiri.

Pakar komunikasi digital Firman Kurniawan dalam sesi Dialog Indonesia juga mengatakan, “ada ekstensi dari dunia maya ke dunia nyata. Jadi kalau dulu segregasi adalah hal hal yang kontekstual ideologis suku ras agama itu bisa menyebabkan segregasi. Hari ini karena teknologi informasi atas hal yang sangat sepele, soal padangan yang belum tentu benar itu menjadi bisa memisahkan orang. Misalnya cuitan sepele bubur diaduk dan tim tidak di aduk, ini bisa jadi isu sosial bahwa loh kita ini berbeda. Juga tentang hal lainnya. Kalau dulu segregasi urusan konsep kalo sekarang ini merata di aspek hidup masyarakat”

Ketika dihadapi dengan kondisi politik masa kini, keterpisahan atau segregasi bisa juga terjadi menurut aturan pemerintah dalam kepentingan negara membina konflik antar ideologi dan sebagainya.  Alasan keterpisahan tersebut bisa terjadi akibat daya luar yang bekerja pada individu maupun kelompok. Implikasi yang dialami pun belum tentu dikehendaki dan merupakan keinginan sadar manusia yang ada di dalamnya.

Segregasi sosial yang terjadi di era digital berbeda dan bisa menjadi ancaman serius perpecahan sebuah bangsa akibat hasil produksi manusia sendiri atas mekanisme mesin berupa algoritma didalam platform.

“Didalam praktek praktek teknologi informasi ada yang namanya Algoritma, ini sebetulnya untuk memudahkan orang untuk memutuskan dan menentukan pilihan, dan dari beberapa pilihan ini mana yang saya pilih berdasarkan informasi yang pernah kita konsumsi. Nah implikasinya adalah yang disarankan adalah yang sesuai dengan minat kita dimasa lalu” ungkap Firman Kurniawan.

Dalam menghadapi tahun politik misalnya, semua pengguna perangkat digital dapat bertindak sebagai  produsen informasi.  Kemudahan dalam  akses media sosial ini menjadi nilai plus sekaligus boomerang di masyarakat.  Terkait dengan masa pemilu, segregasi rawan terjadi akibat masing masing kubu pendukung  paslon akan terus mengeluarkan argumen dan konten konten untuk mendukung calon pemimpinnya guna mempengaruhi publik dan kelompoknya atas pilihannya. Yang secara tidak langsung perilaku bermedia seperti ini juga mempengaruhi lingkungan konsumsi informasi seseorang tersebut.

Perilaku mengakses informasi  dan bermedia sosial tanpa disadari akan mengumpulkan big data atas seseorang dan mempengaruhi pola algoritma atas jenis informasi apa yang akan mesin sajikan padanya khususnya dalam mengkonsumsi infomasi politik menjelang pilpres 2019.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Plt Kepala Biro Humas Ferdinandus Setu, “Pemilu itu bisa memercepat proses segregasi. Jadi selama ada algoritma fenomena ini akan terus terjadi. Dan masyarakat yang awam tidak menyadari dan paham akan fenomena penyortiran ini. Akibatnya kita itu seperti masuk kedalam gua yang kebenarannya sejenis. Yang ketika kita bersuara itu kebenarannya seakan akan  hanya mendengar yang sesuai dengan kita. Seolah olah informasi yang masuk ke kita  adalah informasi yang sama sedari awal kita akses. Dan ini terjadi di berbagai topik di sekitar kita dalam berperilaku terutama platform di dunia maya. Seolah kebenaran yang datang dan realitas yang kita alami adalah hal semacam itu, teman teman sejenis juga yang akan mengelilingi”.

Dalam menangani fenomena segregasi sosial khususnya di dunia maya, Kemkominfo melakukan tindakan preventif dan kuratif yang bersinergi dengan perusahaan, lembaga dan kementrian lainnya.  Langkah preventif yang Kemkominfo lakukan antara lain melakukan kampanye damai dan mensosialisasikan gerakan siberkreasi  sejak Oktober 2017 ke sekolah sekolah.

“Kami menginisasi gerakan siberkreasi yang sudah lebih dari 96% bergabung bersama kominfo baik itu BUMN, kementrian, lembaga, bergabung untuk menyuarakan betapa kita harus menggunakan platform digital itu dengan bijak agar menghasilkan penggunanya yang bukan untuk kita sebagai user tapi lebih penting buat bangsa kita umat manusia pada umumnya. Artinya yang dilakukan adalah kita benar benar harus mengendalikan teknologi. Termasuk juga perusahan seperti Facebook mereka punya program namanya laju digital mereka datang ke kota kota di indonesia menggelar pelatihan pelatihan ke masyarakat bagaimana cara menggunakan Facebook dengan baik dan tidak disalahgunakan. Misalnya jualan online. Intinya bagaimana kekuatan sosial media ini berguna menguatkan hal yang positif” ungkap Plt  Kepala Biro Humas Ferdinandus Setu.

Sejak diluncurkan pada tahun 2017, Kemkominfo telah menyediakan mesin AIS, yaitu mesin pengais konten yang bertujuan untuk crawling (menyortir) konten konten di cyberspace di Indonesia sebagai bentuk penanggulangan konten negatif .

“Tim pengais konten kami bekerja, memilah, memverifikasi, memvalidasi, memblokir, terhadap jutaan  konten per hari dan per jam dalam seminggu. Konten yang disortir adalah konten yang benar benar sengaja dibuat oleh beberapa pihak tertentu untuk memecah belah bangsa indonesia. Konten hoaks yang sengaja dibuat untuk menyerang perorangan, capres cawapres atau parta politik yang tujuannya adalah menciptakan kemarahan, kebencian, sehingga kelompok nya dianggap benar dan kelompok lain dianggap salah. Konten konten ini tumbuh subur didunia maya” ungkap Ferdinandus Setu.

Untuk menanggulangi segregasi sosial secara mandiri, Firman Kurniawan juga menghimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam memilah informasi untuk dirinya sendiri.

“Masyarakat perlu tahu bahwa ada mekanisme algoritma sortir dan sebagainya sehingga ada kemungkinan jelas bahwa anda sudah masuk dalam ruang yang di produksi, sehingga anda perlu membuat variasi informasi yang masuk kepada anda. Misalnya  fenomena cebong dan kampret, coba dalam satu hari anda lihat informasi sebagai posisi netral, bahwa kedua belah pihak ini sama sama yakin punya argumen yang kuat pada pilihannya. Berarti mungkin selama ini mereka terkooptasi oleh informasi informasi yang membelengu mereka. Ini sebuah bukti bahwa mereka menjadi korban algoritma ini sehingga ketika mereka berpisah itu bukan kesadaran atau kemauan mereka sendiri tapi mesin yang tidak mereka sadari”.

Dalam upaya mengembalikan suasana kondusif pasca pemilu 17 april nanti, Kemkominfo juga mengatakan bahwa ada sejumlah agenda seputar rekonsiliasi antara 2 kubu pendukung capres.

“Kami nanti di pasca 17 april bersama Direktorat Jendral Informasi dan Komunikasi Publik  memiliki sejumlah agenda seputar rekonsiliasi. Dimana perlu ada yang rekonsiliasi cebong vs kampret bahwa siapa pun yang terpilih dan memenangkan kita harus siap menang siap menerima, because it just politics” ujar Ferdinandus Setu.

Lebih lanjut, Ferdinandus Setu dan Firman Kurniawan menambahkan bahwa pentingnya pendidikan terkait literasi digital dan budaya baca harus diperdalam untuk menanggulangi fenomena segregasi sosial tersebut.

“Saat ini terdapat 267 juta jiwa warga indonesia, artinya pendidikan harus diutamakan dan budaya baca harus di galakan. Kalau kita udah firm dengan diri , walaupun pilihan politik  kita A kita bisa bergaul dan berteman dengan B, dan bisa menyampaikan  bahwa tidak ada yang hitam dan putih. Karena dengan budaya baca itu kita punya pemahaman lebih kaya dan kita bisa analisa logika yang lebih baik. Ini yang mestinya disadari bahwa berbeda pilihan politik bukan berarti membenci orang yang berbeda dengan kita” ungkap Ferdinandus Setu.

“secara natural bangsa kita itu berbagai macam budaya, jangan diperkeruh informasi dengan ketidaktahuan kita  disetir untuk memuji seseorang yang pada akhirnya mempertajam perbedaan” tambah Firman Kurniawan.

Ancaman segregasi sosial dikaitkan dengan banjir informasi di masyarakat.

Apa itu segregasi?

Firman kurniawan: Segregasi sosial istilah sosiologi yang didalami ilmuwan ilmuwan sosiologi yang memiliki pemahaman bahwa masyarakat ini sebenarnya secara ras, suku bangsa, kelas sosial itukan tidak sama dan berbeda beda, nah itu kadang kadang tersegregasi, terpisah pisah baik secara alami atau terpisah baik secara kepentingan sebuah negara dalam hal membina konflik antar ideologi dan sebagainya.

Segregasi juga bisa karena kesadaran orang atas karakter dirinya merasa tidak nyaman ketika dirinya merasa harus berbaur dengan lingkungannya.

Kaitan dengan kondisi masyarakat saat ini Sejauh mana segregasi bisa menjadi ancaman ?

Didalam praktek praktek teknologi informasi ada yang namanya algoritma ini sebetulnya untuk memudahkan orang untuk memutuskan dan menentukan pilihan, dari beberapa pilihan ini mana yang saya pilih berdasarkan informasi yang pernah kita konsumsi. Nah implikasinya adalah yang disarankan adalah yang sesuai dengan minat kita dimasa lalu

Dampak segregasi dilihat dr kominfo?

Plt Kepala Biro Humas Ferdinandus Setu kemkominfo paham bahwa dimasa depan di era digital isu segregasi  dan perpecahan masyarakat karena di dukung oleh platform digital ini kemungkinan saja bisa saja terjadi . artinya bigdata didalam aplikasi algoritma, bagaimana mesin memisahkan sesuatu berdasarkan ……..itu akan terjadi di era digital. Untuk ini kemkominfo sudah menyiapkan beberapa platform kami menyiapkan mesin pengais konten yang di … 2012, untuk melakukan pengaisan crawling di cyberspace di indonesia. Kami memilah , memverifikasi, memvalidasi, terhadap jutaan  konten per hari dan per jam dalam seminggu . Konten yang disortir adalah konten yang benar benar sengaja dibuat oleh beberapa pihak tertentu untuk memecah belah bangsa indonesia. Konten hoaks yang sengaja dibuat untuk menyerang perorangan, capres cawapres atau parta politik yang tujuannya adalah menciptakan kemarahan, kebencian, sehingga kelompok nya dianggap benar dan kelompok lain dianggap salah. Konten konten ini tumbuh subur .

Segregasi bisa terjadi alami dan menurut aturan pemerintah

Jadi didalam algortima itu punya mekanisme  yang pada akhirnya kita akan mengkonsumsi informasi yang senada  yang oernah kita konsumsi sebelumnya, nah akibatnya kita itu seperti masuk kedalam gua yang kebenarannya sejenis. Yang ketika kita bersuara itu kebenarannya seakan akan  hanya mendengar yang sesuai dengan kita. Seolah olah informasi yang masuk ke kita  adalah informasi yang sama sedari awal kita akses. Dan ini terjadi di berbagai topik di sekitar kita dalam berperilaku terutama platform di dunia maya. Seolah kebenaran yang datang dan realitas yang kita alami adalah hal semacam itu, teman teman sejenis juga yang akan mengelilingi

Pemilu itu bisa memercepat proses segregasi. Jadi selama ada algoritma fenomena ini akan terus terjadi. Dan masyarakat yang awam tidak menyadari dan paham akan fenomena penyortiran ini.

Ferdinandus Setu: saat ini data terakhir kami dari data hoaks per agustus sampai februari 2019 ada 7071, 181 diantaranya hoaks terkait politik. artinya fenomena bahwa ujaran kebencian, kata kata fitnah, kemarahan kemarahan yang ditujukan kepada capres cawapres  kontestan politik lainnya, partai politik, itu  nyata adanya di media sosial kita. Ini yang mungkin yang bisa memicu segregasiyang terjadi pasca pilpres. Kita tahu bahwa 17 april tinggal satu setengah bulan lagi. Kemkominfo seperti yang kita tau melakukan pemblokiran , pengaisan konten konten hoaks, kami melakukan kampanye damai, kampanye rekonsiliasi nanti di pasca 17 april dirjen di ikp punya sejumlah agenda seputar rekonsiliasi. Dimana perlu ada yang rekonsiliasi cebong vs kampret. Nanti di umumkan di facebook ……. siapa pun yang terpilih yang memenangkan siap menang siap menerima, because it just politik.

 

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak dampaknya ?

Firman Kurniawan : masyarakat perlu tahu bahwa ada mekanisme algoritma sortir dan sebagainya sehingga ada kemungkinan jelas bahwa anda sudah masuk dalam ruang yang di produksi , sehingga anda perlu membuat variasi informasi yang masuk kepada anda. Misalnya  fenomena cebong dan kampret, coba dalam satu hari anda lihat informasi sebagai netral bahwa kedua belah pihak ini sama sama yakin punya argumen yang kuat pada pilihannya. Berarti mungkin selama ini mereka terkooptasi oleh informasi informasi yang membelengu mereka . ini sebuah bukti bahwa mereka menjadi korban algoritma ini sehingga ketika mereka berpisah itu bukan kesadaran atau kemauan mereka sendiri tapi mesin yang tidak mereka sadari

 

Upaya kominfo melakukan pengais apakah cukup?

Firman Kurniawan : sebagai sebuah  langkah untuk memanage awalnya seperti itu.

Kalo dari peran perusahaan atau penyedia platform bagaimana semestinya solusi tanggung jawab yang dapat membantu?

 

Firman Kurniawan : mungkin mereka harus membangun literasi bahwa didalam perangkat yang kami buat itu tidak bisa dibenarkan

Ferdinandus Setu :ya betul sekali  jadi memang sejak oktober 2017 kami menginisasi gerakan siberkreasi yang sudah lebih dari 96% bergabung bersama kominfo baik itu bumn negri  kementrian lembaga, mbergabung untuk menyuarakan betapa kita harus menggunakan platform digital itu dengan bijak agar menghasilkan penggunanya yang bukan untuk kita sebagai user tapi lebih penting buat bangsa kita umat manusia pada umumnya. Artinya yang dilakukan adalah kita benar benar harus mengendalikan teknologi termasuk juga perusahan seperti facebook mereka punya program namanya laju digital merka datang ke kota kota di indonesia menggelar pelatihan pelatihan ke masyarakat bagaimana cara menggunakan facebook dengan baik dan tidak disalahgunakan. Misalnya jualan online . intinya bagaimana kekuatan sosial media ini berguna menguatkan hal yang positif

Apakah kemudian akan  berpengaruh diluar tatanan hidup masyarakat diluar dunia maya itu sendiri?

Firman Kurniawan : oiya , ada ekstensi dari dunia maya ke dunia nyata. Jadi kalau dulu segregasi adalah hal hal yang kontekstual ideologis suku ras agama itu bisa menyebabkan segregasi. Hari ini karena teknologi informasi atas hal yang sangat sepele , soal padangan yang belum tentu benar itu menjadi bisa memisahkan orang. Misalnya  bubur diaduk dan tim tidak di aduk. Ini bisa jadi isu sosial bahwa loh kita ini berbeda. Dan lain lain tentang film dll. Kalau dulu segregasi urusan konsep kalo sekarang ini merata di aspek hidup masyarakat

Di tengah kebebasan berekspresi dan berpendapat, bagaimana agar individu tidak merasa kebebasannya di batasi.

Ferdinandus Setu : algortima, big data disatu sisi memang terlihat negatif digunakan untuk memotret masalah kita antara pendukung nomor 1 dan 2 seakan akan tersegrgasi . tapi sejatinya big data banyak manfaatnya. Kita tahu unicorn kita tumbuh dengan baik karena memanfaatkan big data ini. big data sangat penting sekarang, jika dulu minyak sekarang siapa yang menguasai data dia yang menguasai informasi ekonomi dan itu yang terjadi hari ini. kita melihat bahwa ada dampak negatif dari sebuah teknologi itu pasti. Intinya bagaimana kita sebagaimana manusia yang mengendalikan teknologi, kita yang menciptakan teknologi jangan sampai  teknologi yang kita citacitakan mengendalikan kita kembali . pendidikan kesadaran dan pemahaman literasi membaca buku itu jadi penting dan harus disadari setiap warga indonesia saat ii 206 juta artinya pendidikan harus diutamakan . budaya baca harus di galakan. Kalau kita udah firm dengan diri , walaupun pilihan politik  kita A kita bisa bergaul dan berteman dengan B, dan bisa menyampaikan  bahwa tidak ada yang hitam dan putih . karena dengan budaya baca itu kita punya pemahaman lebih kaya dan kita bisa analisa logika yang lebih baik. Ini yang mestinya disadari bahwa berbeda pilihan politik bukan berarti membenci orang yang berbeda dengan kita . stiap argumen itu ada benarnya , yang ini tadi harus diingat. Dan pemahaman seperti ini harus ditularkan tidak hanya diantara kami pemerintah yang mengurus secara rekonten internet tapi juga kami juga memiliki program yang ijin KPU itu datang ke kampus kampus, sekolah, pesantren pesantren untuk menyuarakan itu. Pilihan kita boleh berbeda tapi kita tetap satu indonesia yang sama . sehingga jangan sampai perbedaan itu membuat kita pecah.

Karena langkah yang terbaik   piihannya adalah langkah maju kedepan

Firman Kurniawan : secara natural bangsa kita itu berbagai macam budaya, jangan diperkeruh informasi dengan ketidaktahuan kita  disetir untuk memuji seseorang yang pada akhirnya mempertajam perbedaan

 

 

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *